Banyak pebisnis fashion menghabiskan jutaan rupiah untuk iklan di musim Lebaran tapi tidak semua dari mereka tahu berapa yang benar-benar balik modal
Musim Lebaran adalah momen paling panas di industri fashion lokal. Semua brand tiba-tiba berlomba pasang iklan, bid naik, biaya klik melonjak, dan ROAS (Return on Ad Spend) ambruk. Yang parahnya, banyak yang baru sadar masalahnya setelah kampanye selesai dan rekening sudah terkuras.
Pertanyaannya bukan "berapa banyak yang harus diiklankan?" tapi justru: dari sekian yang klik, berapa yang closing? Dan dari angka itu, apakah budget iklan kamu masih masuk akal?
"Iklan yang mahal bukan masalah. Yang jadi masalah adalah iklan yang mahal tapi tidak tahu mana yang menghasilkan."
Urgensi: Kenapa Lebaran Adalah Perangkap Budget
Lebaran bukan sekadar musim ramai ini adalah musim kompetisi biaya iklan tertinggi sepanjang tahun. Berdasarkan pola umum industri digital, CPM (cost per thousand impressions) di Meta Ads bisa naik 2–3x lipat dibanding bulan normal di periode H-14 hingga H-1 Lebaran.

Ketika semua orang berebut attention yang sama di feed yang sama, biaya per klik naik bukan karena audiensnya lebih bernilai — tapi karena advertiser-nya lebih banyak. Kamu membayar lebih, tapi bersaing lebih keras.
Ini bukan berarti tidak boleh iklan. Ini berarti kamu harus jauh lebih selektif tentang ke mana uangnya pergi.
Studi Kasus: Brand Fashion Lokal
Bisnis Fashion bisa jadi kasus yang tepat mengingat kita baru saja melewati bulan suci ramadhan, dimana banyak dari bisnis fashion itu melakukan iklan secara jor-joran Di Lebaran 2024, sebahgai studi kasus katakanlah pada suatu bisnis fashion mengalokasikan Rp 15 juta untuk iklan Meta Ads selama 3 minggu kampanye. Hasilnya? Biasa saja. Tapi yang menarik adalah apa yang terjadi di Lebaran 2025 ketika mereka mengubah pendekatan.

Secara angka memang berhasil closing. Tapi margin per order menjadi sangat tipis. Dengan biaya produksi + operasional, banyak order di periode itu nyaris impas, bahkan ada yang rugi setelah dikurangi ongkos kirim promo.
Lebaran 2025: pendekatan berbasis closing rate
Perubahan utama yang dilakukan Nara di 2025 hanya tiga hal: mereka menghentikan iklan yang CPC-nya di atas Rp 3.500, mereka fokus retargeting audiens yang sudah pernah berinteraksi, dan mereka set budget harian maksimum berdasarkan target closing bukan berdasarkan "berapa yang ada di kantong".

Budget turun Rp 5,5 juta. Order naik 2,4× lipat. Margin per order naik lebih dari 4×. Bukan karena iklannya lebih murah, tapi karena mereka iklan ke orang yang tepat.

Formula: Hitung Budget dari Closing, Bukan Sebaliknya
Kesalahan paling umum: orang menentukan budget dulu, lalu berharap closing-nya mengikuti. Cara yang lebih logis adalah berjalan dari arah sebaliknya.

Contoh konkret: jika produk kamu dijual Rp 350.000, HPP Rp 130.000, ongkos operasional Rp 40.000, dan kamu mau margin minimum Rp 80.000 per order , maka CAC maksimum kamu adalah Rp 100.000. Kalau target 50 closing per minggu, budget harian maksimum adalah sekitar Rp 714.000.
Ini bukan angka yang kaku. Tapi ini memberi kamu batas atas yang jelas. Kalau cost per closing melebihi Rp 100.000, matikan atau pause kampanye itu apapun alasannya.

Tiga Hal yang Harus Dimonitor Setiap Hari
Kamu tidak perlu dashboard yang rumit. Yang penting adalah tiga angka ini dicek setiap pagi selama kampanye berlangsung:

Kalau CPC sudah bagus tapi closing rate rendah, masalahnya ada di follow-up atau penawaran — bukan iklan. Kalau CPC tinggi tapi closing rate bagus, evaluasi apakah margin masih aman. Keduanya harus dikelola bersamaan.
Lebaran akan selalu jadi musim kompetitif. Biaya iklan akan selalu naik. Yang membedakan brand yang tumbuh dan yang sekadar ikut-ikutan adalah satu hal: keputusan berbasis angka, bukan berbasis perasaan bahwa "iklan harus banyak supaya laku".
merasa relate diskusikan kebutuhan marketingmu dengan harmonic.id atau temukan fakta menarik lain nya di harmonic.id